Titik kontrol yang belum tersebar merata dan kerapatannya belum optimal di seluruh wilayah Nusantara khususnya di pulau kalimantan dan papua menyebabkan saat melaksanankan survei GNSS akan dihadapkan pada baseline panjang. Tim yang melaksanakan survei sering dihadapkan dengan keberadaan titik referensi yang berjarak ratusan kilometer (km) dari wilayah survei dengan hasil pengolahan yang tidak optimal. Hingga saat ini Pushidrosal untuk mengolah data GNSS masih menggunkan perangkat lunak komersil. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) Jaring Kontrol Horizontal untuk jarak tipikal antar titik yang berdampingan dalam jaring < 10 km untuk pengolahan datanya dengan menggunakan perangkat lunak komersial, sedangkan untuk jarak tipikal antar titik yang berdampingan dalam jaring > 10 km untuk pengolahan datanya menggunakan perangkat lunak ilmiah. Dalam kegiatan penelitian ini, penentuan posisi dilakukan dengan menentukan koordinat titik yang jarak antar titik dalam jaring >100 km untuk baseline sedang dan >600 km untuk baseline panjang yang diikat menggunakan data stasiun CORS dengan waktu pengamatan 24 jam. Selanjutnya diolah menggunakan perangkat lunak bernese 5.2 dengan variabel waktu pengolahan 4,8,12,18 dan 24 jam dan akan dikelompokan menurut standar pemetaan yaitu SNI, ICMS dan IHO. Berdasarkan penelitian ini menunjukan bahwa hasil pengolahan data GNSS menggunakan perangkat lunak ilmiah Bernese 5.2 dalam menentukan koordinat defenitif dengan waktu pengamatan 8 jam telah memenuhi standar survei SNI dan 4 jam telah dapat memenuhi standar survei menurut ICMS dan IHO dengan jarak >100 km. sedangkan untuk jarak >600 km dengan waktu pengamatan 4 jam telah memenuhi standar survei untuk ICMS dan 12 jam untuk standar survei SNI dan IHO.
Copyrights © 2021