Gejala proses industrialisasai di negara kita, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pertumbuhan peradaban modern akhir-akhir ini, semakin kentara. Naiknya tingkat taraf hidup masyarakat pada sepuluh dasa warsa terakhir ini mulai dapat dilihat. Kemudahan-kemudahan masyarakat pada sepuluh dasa watsa terakhir ini mulai dapat dilihat. Kemudahan-kemudahan masyarakat dengan adanya peralatan hasil teknologi modern, misalnya alat-alat rumah tangga, tranportasi, pertaniaan, mulai dapat dirasakan. Itulah proses perubahan social dari masyarakat agraris menuju masyarakat Industri. Namun kenyataannya juga, proses perubahan social itu membawa juga dampak social budaya berupa perubahan bentuk dari system nilai, pola piker, serta sikap hidup dan prilaku masyarakat yang terjadi secara evolotif. Dampak social budaya dalam proses industrialisasi dapat terjadi apabila suatu bangsa kurang memiliki landasan pemikiran yang kuat. Landasan pemikiran merupakan syarat mutlak bagi setiap perubahan besar-besaran di Indonesia ini. (Prof. Soedjito S.SH.MA., Transformasi Sosial, 1986, Hal.79). dampak social yang timbul dalam masyarakat antara lain munculnya sikap individualistis, yang berlawanan dari ciri khas masyarakat antara lain munculnya sikap individualistis, yang berlawanan dari ciri khas masyarakat agraris yang memiliki sakap gotong royong. Di samping itu sikap menuju masyarakat industry juga dapat menimbulkan sikap hidup kwantitatif, kompetitif, serta konsumtif, yang merupakan akibat dari proses obyektifasi manusia. Pada perkembangan selanjutnya sikap hidup tersebut akan menumbuhkan pola piker rasionalitas dan pragmatis, yang kemudian akan berkembang kepada sikap hidup matrealistis. Keadan selanjutnya akan mendorong timbulnya filsafat hidup non-metafisis, yang hanya mementingkan unsur materi, tidak ada penekanan pada hubungan antar manusia dengan tuhan dan manusia dengan manusia, yang pada akhirnya akan menimbulkan rasa ‘hampa jiwa’ pada manusia.
Copyrights © 1990