Dunia pemikiran biasanya dihadapkan kepada dua kubu yang dikhotomis, yaitu tradisionalisme dan modernism, baik yangmenyangkut pemikiran keagamaan maupun social budaya. Tradisionalisme diidentikkan dengan sikap budaya dan pemikiran keagamaan yang konservatif, tertutup, kurang menghargai waktu, percaya pada tahayul, lamban dalam mengantisipasi perubahan, dan sebgainya. Sementara itu, modernism diidentikkan dengan progress, terbuka, menghargai waktu, mempunyai perencanaan program yang matang, melihat kedepan, cepat mengantisipasi perubahan, dan seterusnya. Ada kesan, seakan-akan tradisionalisme itu lambing keterbelakangan, sementara modernism lambing kemajuaan, tanpa melihat lebih dalam, filosofi yang melatari pemikiran tradisionalisme dan modernism itu, bahkan juga buta terhadap kebaikan yang terdapat dalam tradisionalisme dan kelemahan modernism.
Copyrights © 1994