Sejarah peradaban manusia mengenal berbagai gerakan reformasi tidak hanya dalam lapangan politik sematia, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan agama. Pada umumnya orientiasi gerakan-gerakan itu bermaksud membangun struktur nilai dan norma baru, sebagai bentuk penyesuaian dengan struktur yang telah ada, atau membongkar konservatisme dalam berbagai bentuknya dan menggantikannya dengan yang baru sama sekali. Reformasi yang bermaksud merubah, menggantikan, memperbaiki secara radikal, guna memperoleh hasil yang jauh lebih baik di berbagai bidang kehidupan (sosial, sosial-ekonomi, politik, budaya, militer dan agama), pada akhirnya sulit untuk tidak mengesankan, bahwa hal itu merupakan gerakan msabaqoh. Essai Weber (18-1920) yang Sangat ma'ruf itupun terasa sulit untuk melepaskan kesan seperti disebut di atas, paling tidak hal itu merupakan hasil dari satu gerakan musabaqoh dalam bidang agama. Begitu pula dengan politik Al Mahdi (775-785), yang rupa-rupanya tepat untuk menggambarkan kelengkapan dari satu gerakan sebagaimana diterangkan itu. Sifat radikal di dalam bentuk reformasi mungkin sangat bijaksana jika tidak terburu-buru diartikan dengan tekanan makna yang negatif, sebagaimana ketergesa-gesaan di dalam setiap memberi arti konflik, baik itu konflik kepentingan, peranan maupun batin. Sungguh arif dan bijaksana seandainya muncul gagasan untuk mengartikannya sebagai upaya perbaikan untuk menghasilkan keadaan yang lebih baik secara mendasar setelah mencermati ketimpangan, kesimpangsiuran, kesalahfahaman, misinterpretasi, dan persepsi-persepsi sejenis lainnya.
Copyrights © 1992