Ibnu Rusyd mempunyai posisi tinggi dalam sejarah filsafat, dan posisi itu bahkan multi segi. Penerjemahan komentar-komentarnya terhadap ariestoteles ke dalam Bahasa latin antara tahun 1217 dan 1256 telah meneguhkan popularitasnya di dunia filsafat sebagai” komentator Aristoteles yang tiada duanya”. Komentar-komentar itu segera menjadi sumber pokok untuk mempelajari Aristoteles sejak waktu itu hingga akhir abad ke-16. Salah satu hasil langsung dari penerjemahan komentar-komentar tersebut adalah bahwa buah pemikiran ibnu rusyd kemudian menjadi bagian dari warisan aristotalian di Eropa Barat. Namun demikian “nasionalis” terhadap tokoh paripatetik muslim terbesar ini harus dilakukan dengan hati-hati. Penonjolan perannya dalam keikutsertaan menafsirkan warisan Aristotalian itu telah memalingkan perhatian dari peran yang dimainkannya dalam mencari penyelesaiaan masalah perdamaiaan antara filsafat dan syari’ah, yang justru di sini komitmen intelektualnya yang paling dalam ditonjolkan. Pemikiran keagamaan Ibnu Rusyd terkandung dalam tiga maqnum opus, yaitu Tahāfutu, t-Tahāfut, yang disusunnya sekitar tahun 1180, faṣlu ‘l-maqāl fi mā Baina al-Ḥikmah wa ‘sy-Syarīáh min al-Ittisal dan al-Kasyaf ‘an Manāhij al-adillah. Kedua karya terakhir ini disusunnya beberapa waktu sebelum menyusun karya pertama. Ketiga buku ini merupakan corpus yang sangat penting dalam usaha usaha melacak inti pemikiran yang khas Ibnu Rusyd, bahkan juga perkembangan pemikiran islam secara umum, dalam masalah hubungan antar filsafat dan Syari’ah.
Copyrights © 1993