Para ahli memberikao indikasi bahwa Islam yang tersebar untuk pertama kalinya di Indonesia adalah bercorak sufistik. Di antara mereka misalnya A.H. Johns, seorang ahli filologi Australia menyatakan bahwa agama ini menyebar berkat usaha para penyiar ajaran tasawuf yang telah menjadi anggota sesuatu ordo tarekat; mereka adaJah musafir-musafir dari Bagdad setelah kota itu diserbu tentara Mongol pada tahun 1258 (Koentjaraningrat, 1984:53). Hal ini dapatlah dipahami karena tasawuf ketika itu merupakan corak keagamaan yang dominan di dunia Islam. Di samping itujuga perkembangan tasawuf tidak lagi merupakan gerakan individual dari elit-elit kerohanian, melainkao ia telah berkembang dalam bermacam-macam aliran tarekat yang ratusan jumlahnya. Melalui gerakan inilah tasawuf bisa bersifat kolektif dan dapat dijalankan oleh segala lapisan termasuk orang-orang awam, karena tarekat tampak lebih mengutamakan aspek praktis dari ajaran-ajaran tarekat itu. Seiring dengan islamisasi itu, sejarah Indonesia pun telah mencatat begitu banyak sumbangan yang telah diberikan oleh kaum tarekat terutama berupa saham budaya dalam proses panjang difusi Islam di tanah air. Bila pada abad-abad pertama dalam proses tersebut terpusat di kota-kota pesisir, maka pada akhir abad XVIII para guru tarekat mulai memasuki daerah pedesaan. Mereka membangun pesantren dan mengajarkao ajaran agama yang pragmatikal kepada para petani. Melalui cara seperti ini Islam dapat berkembang daJam suasana dialog dan integrasi, sehingga ia tampil sebagai pengisi kevacuman budaya akibat jatuhnya kerajaan-kerajaan lokal Hindu dan penetrasi Belanda yang sangat kuat. Demikian pesatnya pengaruh tarekat, bahkan pada akhir abad XIX para penganutnya telah mengambil peran politik yang sangat pentiog dalam gerakan-gerakan rakyat, khususnya di pulau Jawa.
Copyrights © 1994