Minat manusia untuk mengungkap kembali peristiwa yang sudah terjadi dalam upaya memahami masa lampau, bukan merupakan hal yang baru. Menurut catatan Historiografi Barat, hal itu sudah tampak, paling tidak, sejak kira-kira pertengahan abad V dengan munculnya Herodotus (490-430 SM) yang dianggap oleh Barat sebagai Bapak Sejarah kelahiran jaman kasik. Perlu diingat, bahwa peristiwa yang terjadi pada masa lampau itu tidak terhingga banyaknya. Pengungkapan kembali peristiwa-peristiwa itu selalu didasarkan atas jejak atau rekaman yang bisa diperoleh, yang tentu saja hanya merupakan bagian terkecil dari peristiwa yang sesungguhnya pernah terjadi. Melalui proses atau teknik tertentu, jejak-jejak masa lampau itu direkonstruksikan menjadi sebuah bangunan ceritera sejarah yang kira-kira mampu memberi gambaran tentang kejadian yang sebenarnya dari peristiwa masa lampau itu. Lengkap atau tidaknya bangunan itu akan sangat tergantung pada lengkap atau tidaknya jejak yang ditinggalkan atau puing yang ditemukan. Sehubungan dengan hal itu, Gilbert J. Garraghan mengemukakan, bahwa sejarah mengandung tiga konsep yang berlainan, namun ketiganya saling berkaitan. Ketiga konsep itu adalah: (1) peristiwa masa lampau umat manusia yang benar-benar pernah terjadi; (2) rekaman mengenai peristiwa masa lampau; dan (3) proses atau teknik untuk membuat rekaman peristiwa masa lampau. Dengan kata lain, yang pertama sejarah sebagai peristiwa, yang kedua sejarah sebagai ceritera, sedangkan yang ketiga sejarah sebagai ilmu. Untuk apa jejak masa lampu itu direkonstruksi? Terhadap pertanyaan ini banyak jawaban yang bisa diberikan. Satu dari sekian banyak kemungkinan jawaban itu dapat dirujuk kepada pemyataan Sir John Seeley, sebagaimana dikucipoleh Roeslan Abdulgani, yang berbunyi, "History ought surely in some degree to anticipate the lessons of time. We shall all no doubt be wise after the event; we study history that we may be wise before the event". Sejalan dengan itu, Ibrahim Alfian dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Sejarah pada Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, dengan mengutip Cicero, mengatakan, "Tidak belajar sejarah herarti kita akan tetap menjadi kanak-kanak untuk selamanya". Jadi, dengan bercermin kepada pengalaman masa lampau diharapkan seseorang akan mampu melihat jauh ke depan, sehingga menjadi bijaksana dalam melangkah ke masa yang akan datang. Di sinilah rekonstruksi jejak masa lampau akan berfungsi sebagai pengajaran bagi orang-orang yang menginginkan kehidupan yang lebih baik dari masa lalunya. Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik, sekalipun seringkali amat pahit. Dalam menyingkap tabir masa lampau, seorang sejarawan biasanya akan bertolak dari pengalaman masa kini. Hal itu disebabkan masa lcini bukan hanya merupakan kelanjutan masa lampau, melainkan juga sebagai produk dari rnasa silam itu. Dernikian pula halnya masa yang akan datang, akan merupakan kelanjutan dan produk dari masa kini. Apabila mempelajari sejarah bertujuan untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan, maka tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa sejarah berwatak tiga dimensi dalarn waktu; masa lampau, masa kini dan masa depan. Dengan kata lain, mempelajari masa lampau harus berpijak dari kenyataan dan permasalahan masa kini, serta berorientasi ke masa depan. Tanpa berorientasi ke masa depan, sejarah seakan beku dan terpencil dari masa kini dan masa yang akan datang." Oleh karena itu, timbul usaha manusia untuk merekonstruksi jejak-jejak masa lampau menjadi suatu bentuk yang bulat dan utuh, agar mampu memberi arti bagi kehidupan masa kini dan masa yang akan datang.
Copyrights © 1994