Pelaksanaan upacara yadnya umat Hindu di Bali selalu didasari oleh Tiga kerangka dasar Agama Hindu yang melandasi penerapan aktivitas keagamaan dan pengimplementasiannya dalam kehidupan sehari-hari. Tiga kerangka dasar itu adalah Tattwa (filsafat) yaitu hakikat suatu kebenaran, baik yang bersifat kongkret maupun yang abstrak termasuk hakikat Tuhan itu sendiri. Susila (etika) adalah prilaku yang baik, mulia, yang sesuai dengan ajaran Agama Hindu. Kata Susila ini menekankan pada tingkah laku yang baik dan tidak baik. Upakara (ritual) adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan kegiatan atau pelaksanaan dari suatu yadnya. Pelaksanaan agama akan terlaksana dengan adanya sarana pendukung salah satunya adalah banten. Dimana pada kesempatan ini peneliti lebih menekankan pada banten Sampiyan Nagasari dalam pelaksanan upacara yadnya. Dari hasil analisis, data yang diperoleh oleh peneliti adalah sebagai berikut: 1) Upakara, 2) Jejahitan, reringgitan, dan tetuasan, 3) Sampiyan Nagasari, dan 4) Nilai filosofis Sampiyan Nagasari. Nilai filosofis Sampiyan Nagasari terdiri dari a) Nilai Tattwa, b) Nilai Etika, dan c) Nilai Estetika.
Copyrights © 2021