Mesin pesawat merupakan bagian dimana sistem mesin turbin gas akan bekerja untuk mendapatkan gaya dorong pesawat. Agar tidak terjadi kegagalan mesin pada saat take-off perlu diperhatikan salah satu parameter kualitas mesin yakni exhaust gas temperature (EGT). High EGT dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada part mesin pesawat serta mengancam keselamatan penerbangan. EGT sangat mempengaruhi nilai Exhaust gas temperature margin (EGTM) dalam menentukan kelaikan mesin tersebut untuk dapat beroperasi. Selain itu uji kelaikan mesin pesawat merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan nilai EGTM. Mesin yang baru selesai dilakukan perbaikan overhaul, dengan keadaan semua part diganti baru tetapi pada saat uji kelaikan mengalami penurunan nilai EGTM sebesar -29,6 dan turunnya pressure pada saat kompresi sebesar 290 psig. FMEA dilakukan untuk melihat hipotesis yang mungkin terjadi pada saat terjadinya kegagalan sehingga didapatkan kerusakan pada High pressure turbine clearance control air tubing (HPTCC air tubing), High pressure turbin, High pressure compressor rear stator case (HPCnrear stator case), High pressure compressor front stator case (HPC front stator case), dan High pressure compressor rotor blade (HPC rotor blade). Analis air mode untuk mengetahui penyebab terjadinya penurunan nilai EGTM. Pada air mode, perhitungan ini memiliki 3 mode yaitu tested mode, nominal mode standard day dan nominal mode hot day, ketiga mode ini akan diperhitungkan, hasil kalkulasi dari air mode akan mengetahui nilai EGTM yang diperbolehkan. Komputer LX 2000 digunakan untuk memperoleh data perhitungan air mode. Hasil penelitian ini memberikan instruksi uji penerimaan dan kelaikan mesin dengan proses perhitungan air mode untuk mengetahui nilai EGTM terhadap standarisasi original equipment manufacturer (OEM) serta mengetahui penyebab kerusakan part pada mesin turbofan berdasarkan hasil FMEA akibat tingginya EGT 937,6 yang dihitung dengan air mode.
Copyrights © 2022