Inovasi teknologi ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat, jika kurang sesuai tidak akan diterima masyarakat. Teknologi sederhana perontokan gabah dengan cara membanting di permukaan kayu masih dilakukan di di Desa Jogotirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta, meskipun tidak efisien tetap diterapkan petani padi yang bekerjasama dengan peternak. Teknologi perontok yang lebih efisien telah diintroduksikan namun tidak diterapkan oleh sebagian petani. Penelitian bertujuan untuk mengetahui mengapa petani masih melakukan cara perontokan dengan cara banting di permukaan kayu. Metode analisis menggunakan analisis deskriptif dengan “wawancara mendalam” terhadap sampel. Sampel petani diambil secara purposive sampling secara accidental dengan kriteria petani perontok padi cara banting kayu dan peternak sampel merupakan peternak pemanen. Jumlah petani sebanyak 20, sedangkan peternak diambil sejumlah 55 sampel dan merupakan peternak yang merontokkan padi petani sampel. Hasil penelitian menunjukkan semua petani dengan sukarela memberi kesempatan kepada peternak untuk memanen dan merontok padi tanpa memberi upah uang. Peternak memanen dan merontok gabah dengan imbalan jerami hasil perontokannya dibawa pulang sesuai dengan kapasitas dan kemampuan. Petani menyediakan makanan ringan karena merasa telah dibantu. Peternak memanen dan merontok padi merasa terbayar upahnya oleh jerami yang dapat dibawa pulang. Petani menganggap kehilangan hasil masih dapat ditoleransi. Ketidaksediaan beralih teknologi dengan alasan aspek sosial untuk menolong sesama petani. Antara petani padi dan peternak terjadi sinergisme yaitu petani terbantukan oleh peternak tanpa membayar upah tenaga kerja, sedang peternak merasa terbantukan dapat memperoleh pakan ternak jerami tanpa harus mengeluarkan uang. Teknologi sederhana (perontokan padi) tidak harus dihapus di kalangan petani padi. Sinergitas petani padi-peternak dapat dipertahankan dengan edukasi efisiensi dan efektivitas mekanisme perontokan padi.
Copyrights © 2022