Latar Belakang: Lean merupakan upaya untuk menghilangkan pemborosan (waste) dan meningkatkan nilai tambah (value added) produk baik barang maupun jasa yang berlangsung secara terus-menerus dengan tujuan memberikan nilai kepada pelanggan (customer). Tujuan penelitian untuk menganalisis waktu tunggu pelayanan obat dengan menggunakan pendekatan Lean Healthcare di Apotek Rawat Jalan Instalasi Farmasi Puskesmas Tanralili Kab. Maros. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Sequential Explanatory yang merupakan campuran data penelitian kualitatif yang dipakai untuk membantu dalam menjelaskan secara detail tentang data penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode Lean Healthcare yang dilakukan di tahap awal. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa waktu tunggu pelayanan obat resep jadi adalah selama 7,46 menit dengan kegiatan yang menambah nilai (VA) sebanyak 3,95 menit (53%) dan kegiatan yang tidak menambah nilai (NVA) sebanyak 3,50 menit (47%). Waktu tunggu pelayanan obat resep jadi pasien BPJS adalah selama 6,29 menit dengan kegiatan yang menambah nilai (VA) sebanyak 3,22 menit (51%) dan kegiatan yang tidak menambah nilai (NVA) sebanyak 3,06 menit (49%). Waktu tunggu pelayanan obat resep jadi pasien umum adalah selama 13,40 menit dengan kegiatan yang menambah nilai (VA) sebanyak 7,65 menit (57%) dan kegiatan yang tidak menambah nilai (NVA) sebanyak 5,74 menit (43%). Waktu tunggu pelayanan obat resep racikan adalah selama 15,58 menit dengan kegiatan yang menambah nilai (VA) sebanyak 10,3 menit (66%) dan kegiatan yang tidak menambah nilai (NVA) sebanyak 5,28 menit (34%). Waktu tunggu pelayanan obat resep racikan pasien BPJS adalah selama 14,51 menit dengan kegiatan yang menambah nilai (VA) sebanyak 9,45 menit (65%) dan kegiatan yang tidak menambah nilai (NVA) sebanyak 5,06 menit (35%). Waktu tunggu pelayanan obat resep racikan pasien umum adalah selama 16,22 menit dengan kegiatan yang menambah nilai (VA) sebanyak 10,80 menit (66%) dan kegiatan yang tidak menambah nilai (NVA) sebanyak 5,41 menit (34%). Nilai non value added >30% menunjukkan bahwa pelayanan belum efektif dan efisien serta terdapat waste. Hal-hal yang mempengaruhi waktu tunggu pasien dan dapat berpotensi menjadi waste diantaranya: faktor man (jenis pasien, kekurangan SDM, dan adanya pegawai apotek yang rangkap jabatan), faktor methode (tidak adanya petunjuk arah dan status pasien), faktor matherial & machine (pasien yang datang bersamaan, jenis resep, kesediaan obat di Puskesmas, waktu kunjung pasien, dan ketidaklengkapan resep obat yang ditulis oleh dokter) dan faktor environment (tidak jelasnya loket penerimaan resep dan penyerahan obat). Kesimpulan: Diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat ditingkatkan dengan melakukan observasi lebih lama lagi, mempertimbangkan jumlah sampel yang lebih besar terutama dari sisi pasien dengan harapan dapat lebih memperjelas waste di poliklinik rawat jalan.
Copyrights © 2023