Latar Belakang : Stunting merupakan kondisi dimana tinggi badan menurutumur kurang dari -2 standar deviasi. Stunting pada balita dapat menyebabkangangguan perkembangan fisik dan perkembangan kognitif. Salah satu faktorrisiko stunting adalah tinggi badan ibu. Ibu dengan perawakan pendek memilikisistem anatomi dan metabolisme yang tidak memadai yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin.Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui hubungan tinggi badan ibu dengan kejadian stunting pada anak usia 0-24 bulan di wilayah kerja Puskesmas SrandakanMetode Penelitian : Penelitian observasional dengan rancangan case control pada balita usia 0-24 bulan dengan kondisi saat lahir pendek ( <48 cm) dengan besar sampel kasus 33 (stunting) dan besara sampel kontrol 66 (normal). Penetuan stunting ditentukan berdasarkan skor z indeks TB/U <-2 SD menurut WHO child growth standard. Penetuan tinggi badan ibu dalam kategori pendek apabila < 150 cm. Data panjang badan lahir, panjang, jenis kelamin dan umur balita serta tinggi badan ibu diperoleh melalui penelusuran dokumen pada dokumen data pemantauan status gizi/tahun. Data tinggi badan ibu diperoleh dari buku register KIA di wilayah kerja Puskesmas Srandakan. Analisis data dengan uji Chi Square dan perhitungan Odd Ratio (OR).Hasil : Kejadian stunting saat bayi lahir pada anak usia 0-24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Srandakan sebesar 9,68 %, dengan distribusi laki-laki sebesar 38 balita (78,8 %) dan perempuan sebesar 8 balita (21,2 %). Ada hubungan yang signifikan (p=0,007) antara tinggi badan ibu dengan kejadian stunting pada balita usia 0-24 tahun. Ibu yang pendek (tinggi badan <150 cm) berisiko 3,4 kali lebih besar untuk memiliki balita (0-24 bulan) stunting.Kesimpulan : Pada penelitian ini terbukti bahwa tinggi badan ibu berhubungan dengan kejadian stuntingKata Kunci : Stunting, tinggi badan ibu
Copyrights © 2022