Penelitian ini menggunakan teori Fenomenologi Alfred Schutz dengan tujuan untuk mengetahui makna mahar bagi perempuan yang berstatus sosial tinggi menikah dengan mahar sederhana di Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif serta melalui tiga metode pengumpulan data yang harus dilalui. Tehnik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa mahar pernikahan bagi wanita Blang Bintang yang menikah dengan mahar yang tidak sewajarnya seperti dalam masyarakat pada umumnya, mereka menganggap mahar hanya sebatas sebagai simbol sahnya pernikahan. Kedudukan dan fungsi mahar bagi mereka bukan lagi tradisi yang dapat memberikan kebanggaan kepada orang tua (wali), calon istri dan juga sebagai lambang kesuksesan seorang wanita. Penentuan mahar berdasarkan status sosial mempelai wanita dalam pandangan mereka merupakan sesuatu yang tidak baik untuk dipraktekkan karena dapat memicu kesenjangan dalam masyarakat yang mengakibatkan terjadinya pembedaan-pembedaan terhadap status wanita dalam masyarakat. Selain itu penentuan jumlah mahar berdasarkan status sosial juga tidak ada dalam sumber ataupunĀ dalil yang kuat baik yang tertulis di dalam Al-Quran maupun hadits, serta juga tidak tertulis dalam aturan masyarakat Blang Bintang. Pemahaman makna mahar pernikahan bagi mereka bukan lagi masalah kegengsian seperti yang biasanya terjadi dalam masyarakat Blang Bintang, perubahan pemahaman makna ini terjadi karena adanya faktor pendidikan dan pengalaman lingkungan pertemanan. Selain itu Schutz melihat segala tindakan individu berasal dari pengalaman, makna dan juga kesadaran individu tersebut. Dan dalam tindakan individu belian melihat adanya motif tertentu dalam setiap tindakanKata Kunci : Makna Mahar, Intersubyektif, Motif
Copyrights © 2022