Perkembangan teknologi modern yang semakin pesat saat ini, mengakibatkan tradisi masyarakat terkesan kuno danmembosankan. Hal ini menyebabkan generasi muda zaman sekarang banyak yang tidak mengetahui kebudayaannyasendiri, sehingga keberadaan mantra kebudayaan semakin berkurang eksistensinya di masyarakat. Mantra merupakan bagian dari karya sastra lama yang berbentuk puisi. Mantra dipercaya dapat mendatangkan kekuatan bagi perapalnya.Kuda lumping sebagai salah satu kesenian tradisional menggunakan mantra jawa untuk mendatangkan kekuatan ghaib. Mantra tersebut digunakan oleh pawang dan juga para pemainnya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptifkualitatif yang dilakukan untuk mengkaji aspek budaya dalam mantra jawa yang digunakan para pelaku seni kuda lumping di daerah Karangmojo, Gunung Kidul, DIY. Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik wawancara.Teori yang digunakan yaitu Semiologi Rolland Barthes. Tujuan utama penelitian ini untuk mengetahui mitos bahasa mantra jawa dalam kesenian kuda lumping berupa makna interpretan, representamen, dan mitos bahasa mantra dalamkaitannya dengan aspek kejawaan dan Keislaman. Hasil penelitian tersebut menunjukkan (1) Representamen pada mantra jawa dihubungkan dengan konteks mantra berkembang. Inti dari mantra mencerminkan sejarah, budaya, agamadan norma yang berlaku pada zaman dahulu. (2) Interpretan pada mantra jawa mengalami proses denotasi dan konotasi. Berbagai konotasi digunakan secara terus menerus sehingga membentuk satu ideologi yang disepakati masyarakat,kemudian menjadi mitos. (3) Penulis menemukan beberapa kata yang berpotensi menjadi mitos. Mitos pada mantra jawa meliputi bismillahi-rrohmaanirrohiim, Sang Hyang Moyo, kakang kawah adi ari–ari pancer kalimo, simbah,dan babahan.Kata Kunci/Keywords: Mantra Jawa, Kesenian Kuda Lumping, Semiologi
Copyrights © 2022