Terdapat beberapa kendala dalam metode penjadwalan produksi yang telah tersedia. Metode penjadwalan produksi yang telah tersedia seringkali kurang mampu untuk memberikan gambaran kondisi dari sistem nyata. Hal ini ditandai dengan asumsi bahwa setiap operasi harus selesai sebelum operasi lainnya selesai. Asumsi ini tidak tepat jika diterapkan dalam sistem produksi flow shop make-to-order seperti yang terjadi di PT. Preshion Engineering Plastec. Karena pada kebijakan penjadwalan produksinya hanya menggunakan perhitungan total flow time, yang artinya pesanan pertama didahulukan sehingga membuat antrian lama. Akibatnya antrian pesanan sedikit harus menunggu. Sehingga dari segi ketepatan waktu masih banyak mengalami keterlambatan yang dapat mendatangkan komplain dari pelanggan. Penelitian ini melakukan perbandingan antara penjadwalan produksi menggunakan metode Camphbell Dudeck Smith (CDS) dan algoritma Dannenbring dengan perhitungan software WinQSB. Hasil dari perhitungan tersebut didapatkan hasil makespan yang paling optimal yaitu sebesar 871 detik, hal tersebut dapat menghemat makespan sebesar 10221,48 detik atau 170,36 menit jika dibandingkan dengan hasil kebijakan perusahaan sebesar 11092,48 detik. Usulan yang diberikan peneliti kepada perusahaan adalah pada penjadwalan produksi selanjutnya diharapkan menggunakan metode CDS sehingga dapat menghemat makespan.
Copyrights © 2022