Fenomena jemaat yang senang memberi kepada gembalanya adalah hal yang lazim terjadi dan dialami oleh gembala yang sudah melakukan tugas pelayanan penggembalaan dengan baik. Pemberian ini umumnya sebagai bentuk ungkapan terima kasih, wujud apresiasi jemaat atas kinerja baik yang telah dilakukan gembala. Namun, benarkah pemberian dari jemaat ini tidak memiliki potensi dampak buruk bagi pelayanan dan juga pribadi gembala? Dalam penelitian ini penulis mencoba menganalisa pemberian yang diperbolehkan dan yang tidak dengan melihat cara rasul Paulus dalam menyikapi pemberian dari jemaat. Dengan memahami cara rasul Paulus menyikapi pemberian dari jemaat ini para gembala dapat mengambil sikap dalam menerima pemberian-pemberian dari jemaat, agar pelayanan penggembalaan tetap sehat dan berlangsung dengan sebagaimana mestinya. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif-deskriptif guna menganalisa ayat-ayat dan literatur-literatur yang berkaitan dengan subyek penelitian ini. Melalui analisa yang dilakukan untuk menyikapi fenomena ini, penulis mendapati gembala harus menyikapi pemberian jemaat dengan prinsip-prinsip berikut : mengungkapkan terima kasih yang tulus kepada jemaat, bersukacita melihat perhatian jemaat, senantiasa belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan, bergantung sepenuhnya hanya kepada Allah, dan berkeyakinan bahwa Allah menerima dan membalas pemberian dari jemaat.Kata-kata kunci: Pelayanan Pastoral; Rasul Paulus; Pemberian Jemaat; Gratifikasi
Copyrights © 2022