Keberkelanjutan merupakan aspek penting dalam suatu pembangunan, yang mengintegrasikan tiga pilar yaitu: ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam hubungan yang sinergis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat keberlanjutan permukiman nelayan di desa Gampong Alue Naga setelah 17 tahun wilayah ini hancur akibat bencana tsunami. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik analisis keberlanjutan menggunakan RAP-Fish untuk menganalisis keberlanjutan secara multidimensional. Analisis kondisi ekonomi masyarakat dihitung berdasarkan empat indikator, dan analisis kondisi sosial masyarakat dihitung berdasarkan empat indikator juga. Sedangkan analisis kondisi lingkungan dihitung berdasarkan empat indikator. Secara keseluruhan (multidisimensi) berjumlah 12 indikator keberlanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permukiman Gampong Alue Naga ditinjau dari pilar keberlanjutan ekonomi mempunyai nilai indeks sebesar 31,82 atau belum berkelanjutan. Demikian pula dengan pilar lingkungnan masih belum berkelanjutan dengan nilai indeks 35,54. Sedangkan pilar sosial sudah berkelanjutan dengan nilai indeks 59,98. Secara keseluruah (multidimensi) status permukiman Gampong Alue Naga masuk ke dalam kategori belum berkelanjutan dengan nilai indeks 42,44. Terdapat 6 atribut sensitif yang mempunyai pengaruh terhadap peningkatkan status keberlanjutan sehingga perlu dipertahankan dan 6 atribut tidak sensitif yang pengaruhnya rendah sehingga perlu dilakukan perbaikan agar status keberlanjutan Gampong Alue Naga dapat dicapai. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan dan pemodalan produktif lainnya, seperti mengembangkan potensi ekowisata bahari, sehinga tidak terlalu tergantung pada pekerjaan utama sebagai nelayan. Diharapkan dengan pengembangan kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan kehidupan masyarakat dan menjaga lingkungan tetap lestari.
Copyrights © 2022