Indonesia memiliki cadangan nikel sebesar 21 juta ton dan diproduksi sebesar 800.000 ton pada tahun 2019. Tingginya angka produksi nikel berdampak pada besarnya jumlah limbah nikel. Pengolahan nikel menghasilkan limbah padat (slag) dan limbah cair (slurry). Produksi slag nikel di Indonesia mencapai 13 juta ton per tahun. Sedangkan, untuk tailing slurry sebanyak 25,6 juta ton. Slag nikel berpotensi untuk dimanfaatkan kembali, karena secara kimiawi mengandung logam-logam yang berharga seperti nikel, kobalt, dan tembaga. Selain itu 70% slag nikel memiliki komposisi kimia Silika 41,47%, Ferri Oksida 30,44% dan Alumina 2,58%. Setelah dilakukan studi literatur, didapatkan inovasi baru dalam pemanfaatan slag nikel, yaitu sebagai bahan pengganti agregat untuk bahan baku pembuatan shotcrete. Selanjutnya, beberapa perusahaan berencana untuk membuang limbah lumpur nikel ke dasar laut atau disebut Deep Sea Tailing Placement (DSTP). Namun, metode DSTP ini belum mendapat izin dari pemerintah karena dapat merusak ekosistem laut. Untuk itu, pada paper ini penulis menjabarkan keuntungan dan kekurangan antara metode Deep Sea Tailing Placement (DSTP) dengan metode pembuangan tailing di darat. Sehingga, tulisan ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi perusahaan tambang yang hendak melakukan pembuangan tailing baik di darat atau di laut. Serta dapat menjadi acuan awal dalam mengembangkan pemanfaatan shotcrete di industri pertambangan.
Copyrights © 2022