Salah satu seni pengungkapan makna sebagai suatu gambaran imajinatif tinggi adalah dengan menggunakan maj?z isti’?rah. Teori ini juga digunakan untuk membedakan antara apa yang tersirat dan yang tersurat dalam ayat-ayat Al-Qur`an. Namun tidak semua mufassir setuju dalam penggunaanya. Mereka yang setuju beralasan bahwa konsep majaz itu hanyalah perluasan makna dari sekedar makna haq?q? menjadi juga makna maj?z?. Sedangkan yang menolak beralasan bahwa majaz adalah sebuah bentuk kebohongan (al-kadzab) dan pemaksaan atas makna Al-Qur`an. Penelitian ini mengkomparasikan penggunaan maj?z isti’?rah dalam al-Kasysyâf karya az-Zamakhsy?r? (w. 537/1143) dan Bahr al-Muhîth karya Ab? Hayy?n al-Andal?s? (w.745/1344) dengan ilmu bay?n sebagai perangkat utama analisa. Disimpulkan bahwa pengungkapan isti’?rah berdasarkan tharfay at-tasyb?h dalam surah Yusuf mencakup isti’ârah tashr?hiyyah, dan isti’ârah makniyyah. Sedangkan jika berdasarkan bentuk kalimatnya dalam surah Yusuf mencakup isti’ârah ashliyyah dan isti’ârah thaba’iyyah. Kandungan maj?z isti’?rah menimbulkan adanya implikasi terhadap kemukjizatan Al-Qur`an dalam segi makna, karena setiap huruf yang tersusun dalam Al-Qur`an menimbulkan pemaknaan yang berbeda-beda sesuai dengan yang dikehendaki mufassir nya. Disinilah letak kemukjizatan Al-Qur`an yang terangkum dalam tolok ukur perspektif bahasa. Adapun kandungan maj?z isti’?rah meliputi: Mub?laghah (memberikan kesan sangat, hiperbolik), Izhh?r al-Khafiy (menampakkan yang masih samar), Idh?hu adz-zh?hir laisa bi jally (menjelaskan yang tampak tetapi belum begitu jelas), dan Ja’lu ma laysa bi mar’iyyin mar’iyyan (menjadikan yang tidak terlihat menjadi terlihat atau arti sebenarnya, personifikasi).
Copyrights © 2023