Peritonitis sekunder merupakan jenis peritonitis yang paling umum. Sepsis berat yang disebabkan oleh peritonitis dapat meningkatkan angka kematian hingga lebih dari 30-50%. Nilai defisit basa gas darah dapat dipakai sebagai salah satu parameter perfusi jaringan. Iskemia organ yang tidak teratasi akan menyebabkan terjadinya kegagalan fungsi organ yang akhirnya menyebabkan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara nilai inisial defisit basa gas darah dan tingkat mortalitas pada pasien peritonitis sekunder dengan sepsis berat. Rancangan penelitian yaitu kohort retrospektif pada 35 pasien peritonitis sekunder dengan sepsis berat yang masuk ke UGD Bedah RSUP Hasan Sadikin selama periode tahun 2013-2014. Analisis statistik dilakukan berdasarkan analisis korelasi Pearson untuk mengetahui besarnya koefisien korelasi (r) pada kedua variabel pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian berdasarkan outcome pasien meninggal dunia atau hidup, terdapat perbedaan bermakna pada nilai rerata kadar laktat (p = 0,028), nilai rerata Ph (p = 0,000), skor rerata Apache II (p = 0,001), nilai inisial defisit basa gas darah (p = 0,001), dan jumlah organ yang mengalami kegagalan (p=0,040). Terdapat hubungan antara defisit basa gas darah dengan tingkat mortalitas (r= -0,52) dan determinan korelasi (nilai R) 0,27 (p=0,001) yang artinya mortalitas akibat defisit basa gas darah adalah sebesar 27%. Pada analisis ROC diperoleh cut of point mortalitas sepsis berat berdasarkan nilai inisial defisit basa gas darah adalah -7,35 dengan sensitivitas 86,70% dan spesifisitas 45%. Dapat disimpulkan terdapat korelasi antara nilai inisial defisit basa gas darah dengan tingkat mortalitas pada pasien peritonitis sekunder dengan sepsis berat dengan kekuatan korelasi sedang. Kata kunci: defisit basa, mortalitas, peritonitis sekunder, sepsis berat DOI : 10.35990/mk.v5n4.p343-353
Copyrights © 2022