Kemajemukan sebagai keadaan jamak alamiah atau suasana beragamnya banyak hal merupakan hakikat budaya Melayu. Itu terjadi karena keterbukaan budaya dan peradaban Melayu terhadap hal-hal yang ada di luar dirinya; yang selanjutnya diikuti dengan toleransi dan rasa belas kasihan yang tumbuh dari kesadaran etika empati, karena sebagian besar penghuni kawasan Melayu di Nusantara adalah ‘pendatang’. Walaupun berbagai agama pernah singgah di Nusantara, namun kenyataannya Islamlah yang paling banyak pemeluknya, sebagai gambaran keserasian dan keselarasan Islam dengan budaya Melayu. Islam yang universal, egaliter dan majemuk, telah memperkaya kehadiran faham kemajemukan dalam budaya Melayu. Bahkan Islam dinyatakan sebagai jati diri kemelayuan, yaitu orang Melayu adalah mereka yang berbahasa dan berbudaya (adat-istiadat) Melayu, serta beragama Islam. Sehingga orang yang masuk Islam (mualaf) disebut menjadi Melayu, jadi inklusif.
Copyrights © 2022