Fenomena dakwah di Indonesia perlu menyesuaikan kondisi budaya masyarakat yang multikultural, salah satu contoh keberagaman yang ada di kota Surabaya antara Muslim Jawa dan etnis Tionghoa. Keragaman antara mereka tidak menjadi sebab pertentangan seperti kasus sebelumnya pada masyarakat etnis Tionghoa di Semarang dan konflik keagamaan antara Islam-Hindu di India. Keharmonisan masyarakat Muslim Jawa dan etnis Tionghoa dapat contoh cara beragama pada masyarakat multikultural dan menjadi bingkai cara berdakwah pada masyarakat tersebut. Metode penelitian menggunakan penelitian Basic Kualitatif Induktif Empiric Based, pengumpulan data dalam penelitian ini bersumber dari wawancara, dokumentasi dan studi pustaka. Hasil dari penelitian dakwah bingkai multikultural antara etnis Tionghoa dan Pribumi yaitu melaksanakan berbagai kegiatan sosial antar umat beragama seperti gotong royong dan sedekah bumi. Membangun gagasan kesetaraan dari setiap perbedaan etnis Tionghoa, menggunakan pendekatan budaya seperti akupuntur dan barongsai. Pendekatan dialog tentang ide antarbudaya mengenai nilai yang dapat dilestarikan seperti perayaan Imlek, Idul Fitri dan Natal. Pada titik akhir merokonstruksi pemahaman agama sesuai dengan kondisi etnis Tionghoa akan budaya dan tradisinya yaitu pemahaman tentang Imlek bagi umat Islam. Perayaan Imlek dan Natal bagi Muslim Tionghoa dapat menimbulkan pertentangan, sehingga perlu melakukan pendalaman terkait dengan nilai kedua perayaan tersebut bagi seorang Muslim.
Copyrights © 2022