Kematian ibu masih merupakan masalah pokok yang dihadapi oleh bangsa indonesia, dimana AKI di Indonesia tahun 2002-2003 yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup. Di Propinsi Jawa barat tahun 2006 pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah 69,58%. Sementara di Kabupaten Garut pada tahun 2007 pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 70,06% dimana hal itu masih dibawah target Standar Pelayanan Minimal (SPM) Garut pada tahun yang sama yaitu 75%. Di wilayah kerja Puskesmas Garawangsa dari 222 kelahiran pada kurun waktu bulan januari sampai dengan bulan juli 2008, 49,7% persalinan ditangani oleh tenaga kesehatan dan sebagian lagi 50,3% persalinan ditangani oleh tenaga non kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Populasi penelitian adalah ibu-ibu yang melahirkan pada bulan Januari sampai dengan bulan Juli di wilayah kerja Puskesmas Garawangsa Kec. Sucinaraja Kab. Garut tahun 2008, dengan sampel penelitian diambil secara proportional stratified random sampling berjumlah 143 orang. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program SPSS, analisa data yang digunakan yaitu analisa univariat dan bivariat. Hasil penelitian mendapatkan bahwa 72 orang responden (50,3%) dari 143 responden memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan. Dari hasil analisa univariat ternyata jumlah ibu dengan pendidikan rendah lebih besar dibandingkan yang berpendidikan tinggi demikian pula halnya dengan pengetahuan rendah. Hasil uji statistik chi-square pada analisa bivariat ada hubungan antara pendidikan, pengetahuan, dukungan keluarga dan pendapatan keluarga sedangkan variabel pengambil keputusan memilih penolong persalinan tidak terbukti adanya hubungan.
Copyrights © 2019