Kanker prostat merupakan kanker tersering kedua dan menjadi penyebab kematian kedelapan akibat kanker pada laki-laki di dunia; di Indonesia, kejadian kanker prostat berada pada urutan kelima tersering sebesar 7,4% dari 183.368 kasus baru. Modalitas pencitraan struktural (USG, CT, dan MRI) merupakan pemeriksaan standar klinis sehari-hari, tetapi terbatas untuk staging kanker prostat, restaging pasien dengan kekambuhan biokimia, serta untuk menilai respons terapi. Teknik pencitraan molekuler kedokteran nuklir dapat digunakan pada staging awal, restaging, serta menilai respons terapi kanker prostat. Pencitraan kedokteran nuklir dengan radiotracer 11C-choline, 18F-fluoromethylcholine, 18F-fluciclovine, 68Ga-PSMA, dan 18F-PSMA berperan signifikan dalam tata laksana kanker prostat. Prostate cancer is the second most frequent cancer and the eighth leading cause of cancer death in men in the world. In Indonesia, it is the fifth most common cancer with 7.4% from 183,368 new cases. Structural imaging modalities (USG, CT, and MRI) are standard routine clinical examinations, but they were limited for cancer staging, restaging in patients with biochemical recurrence, and in assessing therapeutic response. Nuclear imaging with 11C-choline, 18F-fluoromethylcholine, 18F-fluciclovine, 68Ga-PSMA, and 18F-PSMA have significant role in the management of prostate cancer.
Copyrights © 2022