Resistensi artemisinin berpotensi menghambat tatalaksana Malaria. Oleh karena itu, obat herbal kini berpeluang menjadi secondary treatment dalam kasus ini. Pengembangan obat tersebut perlu diinisiasi, hanya saja, studi pendahuluan dalam bentuk narrative review tentang obat ini masih terbatas. Metode narrative review ini menggunakan kriteria inklusi yaitu artikel dari jurnal Internasional yang terpublikasi dalam rentang waktu 2015 – 2020 dari Google Scholar, PubMed dan Semantic Scholar. Kata kunci yang digunakan adalah Antimalarial, Solvent Fractions, Papaya, Plasmodium; Nanoemulsion, Formulation, Oral Delivery; Antimalarial, Carica papaya, Plasmodium; Activity, Ethyl Acetate Fraction, Compared to Others, Plasmodium Falciparum. Hasil narrative review ini menunjukkan bahwa uji hambat parasitemia fraksi etil asetat ekstrak daun pepaya menunjukkan hasil positif sehingga dapat digunakan sebagai zat aktif antimalaria. Di samping itu, Tween 80, Solutol dan Poloxamer 188 dengan perbandingan 1:1:1 serta PEGylated phospholipid 0,25% juga dapat digunakan untuk formulasi nanoemulsi. Kesimpulannya adalah apabila ditemukan resistensi antimalaria pada pasien, nanoemulsi fraksi etil asetat ekstrak daun pepaya dapat digunakan sebagai alternatif antimalaria (P. falciparum).
Copyrights © 2023