AbstractGender discussion will always seem appealing from an Islamic perspective. Before Islam came, the pattern of life of Arab society was very prone to social conflict. Islam came to improve the human life with the spirit of justice, liberation, anti-oppression, and anti-discrimination. The culture of patriarchy that was once heavily rooted turned out to affect on the interpretation of Qur'anic verses done by the mufassirūn (Comentators on the Qur’an), especially during the Classic era, the interpretation ignored the Women's interests, so the difference between men and women is very noticeable. Islam recognizes the distinction but does not make it a discrimination. This can be seen from the perception and review of women such as women are considered weak, passive, more precious than men, emotional, and so forth. While in the study of religion, women are always used as the weak in various fields, such as of the concept of nusyudz, polygamy, witness adultery, inheritance treasures, reward and threats of torment, Shari'ah and so forth. In this case, through her concept of "recital of the Qur'anic texts, Asma Barlas appears to be one of the contemporary feminist figures who want to improve the order of the interpretation of religious texts that is overwhelmed by gender bias. This includes Hadith interpretation which is framed against the patriarchal ideology, thus raising the spirit of liberation among women and uphold the perspective of egalitarianism in the recitation of the verses of the Qur'an. Using the historical facts and hermeneutics, this paper elaborates the meaning of qawwᾱm in the QS. 4:34. in more gendered perspective according to Barlas.Keywords: Qur'an, Patriarchy, Gender, Feminist, Asma Barlas AbstrakPembahasan gender akan senantiasa tampak menarik dilihat dari perspektif Islam. Sebelum Islam datang, pola kehidupan masyarakat Arab saat itu sangat rawan akan konflik dan juga perpecahan umat. Islam datang untuk memperbaiki tatananan kehidupan tersebut dengan semangat keadilan, pembebasan, anti-penindasan, dan anti diskriminasi dalam memperlakukan manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Budaya patriarki yang dulunya sangat kental ternyata sangat berpengaruh pada produk tafsir al-Qur’an, terutama yang dihasilkan oleh mufassir era klasik yang secara tidak sadar, penafsirannya kurang mengakomodir kepentingan perempuan, sehingga perbedaan antara laki-laki dan perempuan sangat terlihat. Islam mengakui akan adanya perbedaan (distinction) akan tetapi tidak menjadikan itu sebagai sebuah pembedaan (discrimination). Hal ini dapat dilihat dari persepsi dan kajian tentang perempuan seperti perempuan dianggap lemah, pasif, akalnya lebih sedikit dibanding laki-laki, emotional, dan lain sebagainya. Sedangkan dalam kajian agama, perempuan selalu dijadikan sebagai objek dari berbagai sisi, seperti konsep nusyudz, poligami, saksi zina, harta warisan, pahala dan ancaman siksaan, syari’at dan lain sebagainya. Dalam hal ini, Asma Barlas muncul sebagai salah satu tokoh feminis kontemporer yang ingin melakukan reinterpretasi teks-teks agama yang bias gender yaitu dengan konsep pembacaan ulang terhadap teks-teks al-Qur’an dan juga hadis, yang mana penafsiran-penafsiran sebelumnya didominasi oleh ideologi patriarki. Hal ini dilakukan untuk memunculkan semangat pembebasan terhadap perempuan dan menjunjung perspektif egalitarianisme dalam pembacaan kembali ayat-ayat al-Qur’an. Dengan menggunakan metodologi sejarah dan hermeneutik, salah satu yang dikritik oleh Asma Barlas ialah makna qawwᾱm dalam QS. 4:34.Kata kunci: Al-Qur’an, Patriarki, Gender, Feminis, Asma Barlas
Copyrights © 2019