The assumption that salvation has been completed is very unbiblical because humans must complete God's work of salvation that has been given. Salvation for humans who have fallen into sin and have a sinful nature is not enough just with the forgiveness of sins; they must leave their sinful nature. The Holy Spirit was sent to help a man become holy by changing his nature throughout life from sinful to divine. Using a qualitative method with a literature study approach and text analysis, it can be concluded that Jesus' redemption for all people has been completed, but for believers, there is a demand to do what He taught. Because of Christian salvation, Christianity does not tolerate sin; Christianity is not a teaching that allows sinners to enter heaven because of grace. The salvation that is understood to have been completed or perfect is "poison" for every believer because without realizing it, someone with this concept of salvation will feel "safe and secure" without feeling any risk of failure. Salvation has three dimensions in human life. They are past, present, and future. Christian salvation must be worked out actively and progressively with perseverance until it reaches the stage that pleases the Father. This is one of the most essential reasons Christianity must actively seek salvation and grow immediately. AbstractAnggapan keselamatan telah selesai sangat tidak alkitabiah, sebab manusia harus menyelesaikan karya keselamatan Allah yang telah diberikan. Keselamatan bagi manusia yang sudah jatuh dalam dosa, yang memiliki sifat dosa, tidak cukup hanya dengan pengampunan dosa, namun wajib meninggalkan sifat dosanya. Dan Roh Kudus diutus untuk menolong manusia menjadi kudus dengan mengubah kodratnya sepanjang hidup, dari kodrat dosa menjadi kodrat Ilahi. Mengunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan analisa teks, maka dapat disimpulkan bahwa Penebusan yang dilakukan Yesus untuk semua orang telah selesai, tetapi bagi orang percaya ada tuntutan untuk mengerjakan apa yang diajarkanNya. Sebab kese-lamatan Kristen, kekristenan tidak toleransi terhadap dosa, kekristenan bukan ajaran yang meng-izinkan orang berdosa bisa masuk sorga dengan alasan anugerah. Keselamatan yang dipahami telah selesai atau sempurna adalah “racun” bagi tiap orang percaya karena tanpa disadari seseo-rang dengan konsep keselamatan seperti ini akan merasa “aman-aman saja” tanpa merasa ada risiko kegagalan. Keselamatan memiliki tiga dimensi dalam kehidupan manusia. Yaitu masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Keselamatan Kristen harus dikerjakan secara aktif dan progresif dengan ketekunan sampai pada tahap yang menyenangkan hati Bapa. Inilah salah satu alasan terpenting mengapa kekristenan harus aktif mengerjakan keselamatan dan segera bertumbuh.
Copyrights © 2022