Sebagai lokus penolakan terhadap imperial, kajian nasionalisme dalam karya sastra nyaris selalu dioposisikan dengan kolonialisme semata. Untuk mengisi celah kajian yang ada sebelumnya, penulis akan mengkaji cerpen Mayat yang Mengambang di Danau karya Seno Gumira Ajidarma dengan tak hanya menghadapkan wacana nasionalisme pada kolonialisme, namun juga pada wacana lain yakni segregasi dan separatisme. Dalam penelitian ini penulis menggunakan perspektif pascakolonialisme dan metode diskursif untuk melihat bagaimana cerpen tersebut membentuk wacana nasionalisme yang labil dan terbuka untuk menjadi sesuatu yang lain. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa wacana nasionalisme itu labil tidak hanya semata ketika dihadapkan pada kolonialisme, namun juga ketika dihadapkan dengan wacana segregasi dan separatisme yang pada akhirnya melahirkan penindasan paralel tanpa ujung.
Copyrights © 2022