Manusia selalu terikat dengan konteks (social, budaya, suku, sejarah, politik) dan konteks itu sifatnya kompleks dan ruang perjumpaan antara manusia dan Tuhan. Konteks tersebut, dimasukkan sebagai unsur penting dalam berteologi, yang bersifat klasik. Teologi juga perlu mempertimbangkan nilai – nilai multicultural yang menjadi jiwa bagi kehidupan masyarakat setempat. Nilai-nilai multicultural menyebabkan seseorang dapat memahami dirinya sendiri dalam hubungannya dengan orang Dengan demikian, teologi lokal, disadari bahwa teologi tidak bisa dilepas dari interaksi social-budaya yang berfungsi untuk menjawab dan menanggapi tantangan lokal-kontekstual. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengusulkan folklor sebagai teologi lokal bagi suatu masyarakat. Folklor diyakini dapat menjaga dan merawat kehidupan manusia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan penelitian empiris terhadap penghayatan folklor Bai pada masyarakat Sentani. Hasilnya adalah ketika folklor dihargai dan dijadikan bahan baku teologi lokal maka hal itu akan menghasilkan transformasi moral yang menguatkan persekutuan antar manusia. Itu artinya teologi tidak hanya membangun relasi kepada Tuhan saja namun juga relasi dengan sesama.
Copyrights © 2023