World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa setiap tahunnya sekitar 3% (3,6 juta) bayi baru lahir mengalami asfiksia dan satu diantaranya meninggal dunia. Ketuban pecah dini (KPD) bisa menyebabkan terjadinya hipoksia dan asfiksia akibat oligohidramnion yang dimana keadaan air ketuban kurang dari normal yaitu 300 cc. KPD preterm adalah KPD sebelum usia 37 minggu minggu dan KPD memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan. penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya hubungan Lama Terjadinya Ketuban Pecah Dini Dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di Puskesmas Tanjung Karang Kota Mataram Nusa Tenggara Barat. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik kuantitatif dengan pendekatan retrospektf. Sampel dalam peneletian ini adalah semua ibu bersalin dengan KPD berjumlah 58 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Instrumen yang digunakan pada dua variabel adalah buku register bersalin dan bayi serta analisa data menggunakan uji chi square dengan taraf signifikan 5%. Hasil penelitian didapatkan p-value > ? (alfa) yaitu 0,05 > 0.478. Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara lama terjadinya ketuban pecah dini dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir di Puskesmas Tanjung Karang Kota Mataram Nusa Tenggara Barat. Kesimpulannya adalah kejadian asfiksia sebagian besar tidak dipengaruhi oleh ketuban pecah dini karena jumlah responden yang tidak mengalami asfksia lebih banyak yaitu 31 responden
Copyrights © 2020