Pada tanggal 5 Februari 2018 jam 17.00 WIB terjadi hujan lebat di Sekitar Bandara Soekarno-Hatta dengan jumlah curah hujan mencapai 70 milimeter/hari. Adanya kejadian tersebut menyebabkan kondisi udara tidak stabil dan turbulen di sekitar runway yang berkaitan langsung dengan lapisan batas atmosfer. Sehingga dapat mengganggu aktivitas penerbangan pada waktu itu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik lapisan batas atmosfer saat kejadian tersebut. Data yang digunakan adalah data pengamatan udara atas (Radiosonde) dan udara permukaan (Sinoptik) Stasiun Meteorologi Cengkareng (96749), model HYSPLIT dengan resolusi spasial 0.5ox 0.5o dan resolusi temporal tiap 3 jam dari National Oceanic and Atmospheric Administration, Streamline, dan Satelit Himawari-8 kanal Infrared. Metode yang digunakan adalah dengan menentukan nilai ketinggian lapisan batas atmosfer, Richardson Number(Ri), Turbulence Kinetic Energy (TKE) dan intensitas Turbulen saat kejadian dibandingkan dengan normalnya. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa ketinggian lapisan batas atmosfer mencapai 2,15 kilometer, Nilai Ri mencapai -0.37, dan TKE mencapai 4,12 m2/s2 dengan intensitas Turbulen kuat. Selain itu, analisis indek Radiosonde menunjukkan kondisi udara yang cukup labil. Terdeteksi awan konvektif tebal di sekitar wilayah kejadian dengan suhu puncak awan mencapai -72oC.
Copyrights © 2019