Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah menganalisis militerisme militer Myanmar (Tatmadaw) dalam berdemokrasi di Myanmar dan pemaknaan demokrasi à la militer Myanmar berdampak bagi pendewasaan demokrasi ASEAN (1962-2021). Kudeta kepada Daw Aung San Suu Kyi dan Presiden Win Myint tanggal 1 Februari 2021 di Myanmar menunjukkan negara ini masih dicengkram oleh kekuatan militer Myanmar (Tatmadaw) dalam menguasai perpolitikan dan pemerintahan. Tampaknya militer di Myanmar “mengamankan” posisi kekuasaannya dengan berlindung di balik jubah demokrasi. Metode penelitian menggunakan metode penelitian studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kudeta di Myanmar memperlihatkan wajah demokrasi ASEAN yang sedang mencari corak tersendiri akan pemahaman bagaimana demokrasi mengayomi militer ke dalam kekuasaan politik sipil dalam mempertahankan negara dari agresi eksternal kepada otoritas sipil di bidang politik dan pemerintahan. Kata Kunci: ASEAN, Demokrasi, Militer, Myanmar Abstract: The purpose of this research is to analyze the militarism of the Myanmar military (Tatmadaw) in democracy in Myanmar and the meaning of democracy à la the Myanmar military has had an impact on the maturity of ASEAN democracy (1962-2021).The coup against Daw Aung San Suu Kyi and President Win Myint on 1 February 2021 in Myanmar shows that this country is still gripped by the power of the Myanmar military (Tatmadaw) in controlling politics and government. It seems that the military in Myanmar "secured" its position of power by taking cover under the cloak of democracy. The research method uses library study research methods. The results of the research show that the coup in Myanmar showed the face of ASEAN democracy which is looking for its own style of understanding how democracy brings also protects the military into civilian political power in defending the country from external aggression against civilian authorities in politics and government. Keywords: ASEAN, Democracy, Military, Myanmar
Copyrights © 2023