Stres adalah respon terhadap stimulus eksternal yang melebihi kapasitas koping seorang individu. Stres umumnya mempengaruhi semua sistem tubuh termasuk sistem kardiovaskuler, pernapasan, endokrin, gastrointestinal, saraf, otot, dan reproduksi. Stres diketahui memiliki hubungan dengan kejadian infertilitas. Pasien yang infertil secara signifikan memiliki lebih banyak gejala kecemasan dan depresi daripada individu yang tidak infertil. Literature review ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stres pada infertilitas. Studi ini merupakan literature review menggunakan 4 database yaitu PubMed, Science Direct, Garuda, Google Scholar yang dipublikasikan sejak tahun 2012 hingga 2022. Selanjutnya diperoleh 11 artikel yang sesuai dengan kriteria. Hasil review menunjukkan bahwa stres memiliki hubungan yang signifikan dengan infertilitas. Stres psikologis dianggap sebagai bagian dari faktor lingkungan yang mempengaruhi fertilitas. Beberapa sumber menyebutkan bahwa stres dapat menyebabkan infertilitas dengan mengubah kondisi hormonal pada wanita. Secara khusus, sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA axis) memiliki peran penting dalam memediasi efek neuroendokrin. Hal ini bertanggung jawab untuk sekresi kortisol atau yang juga dikenal sebagai hormon stres karena produksinya meningkat dalam kondisi stres kronis. Oleh karena itu, beberapa penelitian telah menggarisbawahi kemungkinan hubungan antara tingkat stres yang tinggi dan tingkat kortisol yang lebih tinggi, dan terjadinya infertilitas.
Copyrights © 2023