Abstract:The vulnerability phase experienced by the elderly group needs to receive special attention to make it better, more comfortable and prosperous by providing assistance in the form of counselling services by presenting self-acceptance. The type of ability that must be possessed by a pastoral counsellor is to provide counselling service assistance by presenting nuances of self-acceptance in every counselling conversation for elderly groups. This assistance is carried out by pastoral counsellors who are part of the ecclesiastical pastoral duties. The purpose of this research study is to offer the concept of self-acceptance that has been initiated by Albert Ellis as a thinking construct that can be penetrated into counselling conversations with elderly groups. This research uses a qualitative method with a descriptive approach supported by literacy studies, with a counselling approach from Albert Ellis and the concept of self-acceptance he initiated to be able to be discussed in the lives of the elderly with their problems and can be applied by pastoral counsellors. In this case, the REBT counselling theory is synthesized to take its core values. The conclusion of the concept of self-acceptance that is built simply in counselling talks with the elderly is expected to be an alternative that will help the lives of the elderly in the vulnerability phase. Abstrak: Fase kerentanan yang dialami oleh kelompok lansia perlu untuk mendapat perhatiaan khusus agar lebih baik, nyaman dan sejahtera dengan cara diberikan bantuan berupa layanan konseling dengan menghadirkan penerimaan diri. Jenis kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang konselor pastoral adalah memberikan bantuan layanan konseling dengan menghadirkan nuansa penerimaan diri self acceptance dalam setiap percakapan konseling untuk kelompok lansia. Bantuan ini dilakukan oleh konselor pastoral yang menjadi bagian dari tugas penggembalaan gerejawi. Tujuan yang hendak dicapai dari kajian penelitan ini adalah menawarkan konsep self acceptance yang telah digagas oleh Albert Ellis sebagai konstruk berpikir yang dapat dipenetrasikan kedalam percakapan konseling dengan kelompok lansia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang didukung kajian literatur, dengan pendekatan konseling dari Albert Ellis dan konsep self acceptance yang digagasnya, untuk dapat dibidilk dalam kehidupan lansia dengan problematikanya, dan dapat diaplikasikan oleh konselor pastoral. Dalam hal ini teori konseling REBT disaripatikan untuk diambil nilai intinya. Kesimpulkan dari konsep self acceptance yang dibangun secara sederhana dalam pembicaraan konseling dengan lansia diharapkan akan manjadi alternatif yang akan membantu kehidupan lansia dalam fase keretananan.
Copyrights © 2023