Permasalahan mengenai pemahaman dan pemaknaan hadis terletak pada tidak efektivnya penafsiran klasik terhadap hadis-hadis yang bermasalah dan bertentangan, ditambah dengan penafsiran kontemporer yang bertumpu pada hermeneutika terjebak pada kecenderungan obyektiv terhadap teks atau subyektifv tehadap segala hal. Teori ma’na cum maghza secara singkat menjembatani kedua hal tersebut dengan menitik beratkan pada signifikansi teks. Penggunaan hadis musykil dalam penulisan ini adalah untuk melihat seberapa jauh teori ma’na cum maghza dapat menjadi sebuah alternatif metodologi memahami dan menafsirkan hadis sebagaimana pada umumnya teori ini berorientasi pada penafsiran al-Quran. Pada bagian pengkajian penulis menggunakan hadis qudsi yang tergolong musykil untuk ditafsirkan. Penafsiran secara obyektiv hanya dapat memberikan pemahaman tekstual dari hadis tersebut dan tidak adanya pemaknaan mendalam sementara penafsiran secara subyektiv hanya memberikan gambaran sosok yang menjadi lawan bicara Nabi pada hadis tersebut. Tetapi sumbangan besar pemaknaan hadis dilakukan dengan menggabungkan dua kecenderungan itu di mana faktor historisitas dan maksud Nabi yang mempengaruhi gaya bahasa dan perkataan Nabi serta dapat dipahami sesuatu yang menjadi pesan utama teks sebagai tujuan dan atas hal tersebut yang secara lahiri dapat dikontekstualisasikan.
Copyrights © 2019