AbstrakPerdamaian Aceh adalah persetujuan secara resmi untuk mengakhiri pertikaian/konflik antara GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan RI (Republik Indonesia), kesediaan meletakkan senjata dan mengakhiri konflik bersenjata yang dikenal dengan perjanjian MOU Helsinski. Museum Perdamaian Aceh merupakan suatu tempat untuk menyimpan benda-benda peninggalan peristiwa Perdamaian Aceh guna mengumpulkan, merawat, menyajikan dan melestarikan peristiwa Perdamaian Aceh. Tujuan perancangan ini adalah merancang sebuah museum sebagai pusat sajian informasi bagi kepentingan studi, penelitian, pendidikan dalam haluan sejarah Aceh serta dapat memotivasi masyarakat Aceh akan pentingnya mengetahui sejarah Aceh. Tema yang diterapkan pada Perencanaan Museum Perdamaian Aceh adalah Arsitektur Simbolisme Metafora yaitu penggunaan simbolis untuk mengekspresikan ide bentuk bangunan secara Arsitektural yang akan dapat diperlihatkan dalam karya Arsitektur sekaligus memiliki makna nilai-nilai simbolik yang dihasilkan melalui bentuk dan estetikanya serta memperhatikan budaya masyarakat lokal, agama dan kondisi bangunan disekitarnya. Penerapan tema simbolisme pada perancangan Museum Perdamaian Aceh diharap dapat merepresentasikan makna dari bentuk bangunannya sehingga orang yang mengamati dapat menerjemahkan identitas bangunan museum perdamain Aceh dan dapat menjadi daya tarik wisatawan untuk mengunjungi sehingga mengenal Aceh terutama dalam bidang sejarah perdamaian Aceh.
Copyrights © 2020