Model dialektika antara antara wahyu dan budaya memberikan pemahaman yang beragam dalam pembahasannya, bagaimana tidak?!, wahyu yang selanjutnya ditulis oleh manusia jika dipahami, turun seolah merekam peritiwa-pristiwa yang terjadi pada saat itu dalam kaitannya melakukan adaptasi, akomodasi, dan koreksi terhadap tradisi kebudayaan, bahkan pembahasan seperti ini dalam diskusi ulum al-Quran klasik menjadi pembahasan konteks makkiyah-madaniyah untuk memahami ayat, asbab al-Nuzul ayat, munasabah antar ayat dan pembahasan lainnya untuk melihat konteks historis, sosial kemasyarakatan, pada saat yang sama tinjauan terhadap ulum al-Quran klasik mungkin kita hanya akan menemukan diskusi seperti ini dari kacamata teoritis atau yang sifatnya sedikit historis, dan tidak sampai menyentuk hubungan “wahyu dan budaya” yang justru kita mendapatkannya pada model ulum al-Quran saat ini misalnya pada Mafhum al-Nas dan Qira’ah Mu’asirah karya Sahrur, termasuk yang dibahas adalah makiyah madaniyah, asbab al-Nuzul dan beberapa teori lainnya sebagaimana dalam karya ulum al-Quran klasik, perbedaanya pembacaan ulum al-Quran sekarang lebih “antropologis” dengan menjadikan “manusia” sebagai pusat perhatian maka ini juga dapat disebut “antroposentris” dimana materi-materi pada ulum al-Quran kontemporer lebih berorientasi memahami kemanusiaan dalam kebudayaanya berhadapan dengan wahyu yang transenden. Tulisan ini membahas Antropologi al-Quran dalam pembacaan ulum al-Quran kontemporer menggunakan metode dan pendekatan historis antropologis, dan selanjutnya menemukan beberapa pembahasan dalam konteks dialektika antara wahyu dan kebudayaan dalam banyak poin penting.
Copyrights © 2023