Abstract This research explored whether there was a difference between two methods of visual cue training and rhythmic auditory stimulation in developing standing balance and functional gait among post-treatment stroke patients. The research was conducted in 2 month period time under the framework of experimental research. Using pre-test and post-test control group, two groups of post-treatment stroke patients were selected. First group which was consisted 11 patients received Visual Cue Training (VCT) exercise for 20 minutes. 11 patients from second group received Rhythmic Auditory Stimulation (RAS) exercise for 20 minutes. Further, each patient was measured standing balance and functional gait ability in accordance with the operational concept guidance. Measuring test standing balance was using Single Limb Stance Test (SLST) and functional gait was using Gait Cycle Measurement (GCM). The result was processed by Independent t-test. The results from standing balance post-test exercise of VCT (3.36 ± 0.647) and the exercise of RAS (2.82 ± 0.603). The results from post-test of functional walking ability VCT exercise (46.64 ± 9.77) and the exercise of RAS (41.18 ± 6.306)). Therefore, it was concluded that there is no difference effect for both of the Visual Cue Training (VCT) and Rhythmic Auditory Stimulation (RAS) in improving standing balance and functional gait among post-treatment stroke patients.  Keywords : Stroke, standing balance, functional gait Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keseimbangan berdiri dan kemampuan fungsional berjalan setelah pelatihan Visual Cue Training dan Rhythmic Auditory Stimulation pada pasien stroke pascaterapi. Penelitian dilakukan selama 2 bulan menggunakan metode penelitian eksperimental dengan rancangan penelitian pre-test and post-test control group design. Dua kelompok pasien stroke diseleksi. Kelompok pertama sebanyak 11 pasien diberikan pelatihan Visual Cue Training (VCT) selama 20 menit. Sebanyak 11 pasien dari kelompok kedua diberikan pelatihan Rhythmic Auditory Stimulation (RAS) selama 20 menit. Setiap pasien dilakukan pengukuran keseimbangan berdiri dan kemampuan fungsional berjalan sesuai dengan konsep panduan operasionalnya. Tes pengukuran keseimbangan berdiri menggunakan Single Limb Stance Test (SLST) dan tes kemampuan fungsional berjalan menggunakan Gait Cycle Measurement (GCM). Hasil penelitian diolah dengan Independent t-test. Hasil post-test keseimbangan berdiri setelah perlakuan VCT (3,36±0,647) dan pada perlakuan RAS (2,82±0,603) menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan (p>0,05) pada kedua perlakuan. Hasil post-test kemampuan fungsional berjalan setelah perlakuan VCT (46,64±9,77) dan pada perlakuan RAS (41,18±6,306) menunjukkan tidak adanya pebedaan yang signifikan (p>0,05) pada kedua perlakuan. Disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan efek yang signifikan antara Visual Cue Training (VCT) dan Rhythmic Auditory Stimulation (RAS) dalam meningkatkan keseimbangan berdiri dan kemampuan fungsional berjalan pada pasien stroke. Kata kunci: Stroke, keseimbangan berdiri, kemampuan fungsional berjalan
Copyrights © 2015