Berdasarkan hasil PISA diperoleh fakta bahwa kemampuan matematik siswa hanya berkutat di level 1, level 2, dan level 3. Sedangkan kemampuan matematik pada level 4, level 5, dan level 6 masih sangat rendah. Untuk menyelesaikan soal level 4, level 5, dan level 6, dibutuhkan kemampuan berpikir kreatif. Hal tersebut menunjukkan kemampuan berpikir kreatif siswa di Indonesia masih redah. Berdasarkan pengamatan selama PPL dan berdasarkan wawancara dengan salah satu guru matematika di SMAN 5 Semarang diperoleh informasi bahwa kemampuan berpikir kreatif matematis masih rendah serta siswa masih kesulitan dalam mempelajari materi trigonometri. Pasa strategi pembelajaran TTW siswa dituntut untuk berpikir mengenai solusi masalah yang dihadapi sesuai dengan idenya sendiri, kemudian mengkomunikasikan ide-ide mereka dalam sebuah diskusi, sehingga siswa dapat menemukan ide baru untuk mengatasi suatu masalah dan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan berpikir kreatif matematis dan kerjasama melalui model pembelajaran kooperatif dengan stategi Think-Talk-Write berbantuan kartu soal materi trigonometri di SMAN 5 Semarang Jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek Penelitian adalah 33 siswa kelas XI MIPA 2 SMAN 5 Semarang Tahun Pelajaran 2017/2018. Instrumen pengambilan data meliputi lembar tes berpikir kreatif matematis, lembar observasi, angket, wawancara, dan rubrik penilaian Kartu Soal. Analisis data meliputi penyederhanaan data dan deskripsi data. Materi yang terlibat adalah rumus jumlah dan selisih dua sudut pada cosinus. Indikator Penelitian (1) rataan nilai tes kemampuan berpikir kreatifl 70, (2) kategori sikap kerja sama minimal tinggi. Hasil penelitian menunjukan: penerapan model pembelajaran kooperatif dengan stategi Think-Talk-Write berbantuan kartu soal siklus I,rata-rata nilai kemampuan berpikir kreatif 79 dan kategori sikap kerja sama adalah sedang
Copyrights © 2018