Kemampuan berpikir merupakan salah satu tujuan pembelajaran matematika. Kemampuan berpikir kritis yang rendah berpengaruh terhadap keberhasilan suatu pembelajaran. Oleh karena itu perlu adanya inovasi untuk meningkatkan keberhasilan pembelajaran dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba untuk menemukan konsep dalam proses pembelajaran. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk (1) menguji ketuntasan belajar secara klasikal kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada pembelajaran DAPIC Problem-Solving dengan pendekatan RME, dan (2) menguji perbedaan kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada pembelajaran DAPIC Problem-Solving dengan pendekatan RME dan pada model pembelajaran Problem Based Learning. Penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMPN 43 Semarang tahun pelajaran 2021/2022. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tes kemampuan berpikir kritis matematis. Analisis data yang digunakan meliputi uji proporsi dan uji beda rata-rata. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada pembelajaran DAPIC Problem-Solving dengan pendekatan RME belum mencapai ketuntasan belajar dan (2) kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada model pembelajaran DAPIC Problem-Solving dengan pendekatan RME lebih baik dari pada model pembelajaran Problem Based Learning.
Copyrights © 2022