Kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu kompetensi dan keterampilan bertahan hidup yang diperlukan siswa dalam menghadap kehidupan, dunia kerja, dan kewarganegaraan dalam abad 21. Selain pada aspek kognitif, aspek lain yang perlu dibangun adalah aspek afektif, dalam hal ini adalah self-confidence. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam pembelajaran merupakan bentuk upaya peningkatan kualitas pembelajaran pada abad ke 21, sehingga dibutuhkan variasi mengajar berupa variasi alat bantu dan variasi model belajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah peserta didik kelas XI MIPA di SMA Kesatrian 2 Semarang ditinjau dari self-confidence. Penelitian ini merupakan penelitian mixed method. Instrumen yang digunakan adalah tes kemampuan pemecahan masalah, angket, dan wawancara. Dengan populasi siswa kelas XI MIPA SMA Kesatrian 2 Semarang tahun pelajaran 2022/2023. Dengan cara random sampling terpilih kelas XI MIPA 1 sebagai kelompok kontrol dan XI MIPA 2 sebagai kelompok eksperimen. Penentuan berdasarkan hasil angket self-confidence yang dikelompokkan menjadi tiga kelompok yakni tinggi, sedang, dan rendah. Dari tiga kelompok masing-masing dipilih dua subjek untuk dianalisis lebih lanjut kemampuan pemecahan masalah. Hasil penelitian membuktikan bahwa siswa dengan pembelajaran Problem Based Learning berbantuan desmos belum mencapai ketuntasan belajar. Kemampuan pemecahan masalah siswa pada model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan desmos tidak lebih baik dari Kemampuan pemecahan masalah siswa pada model pembelajaran Problem Based Learning.
Copyrights © 2023