Komunikasi antarpribadi merupakan perangkat utama pertukaran informasi dokter dan pasien. Untuk menegakkan diagnosis dan rencana pengobatan, dokter membutuhkan informasi dari pasien, sementara pasien membutuhkan dokter untuk memahami dan menjelaskan rasa sakit yang mereka derita. Proses ini memerlukan empati dan rasa saling percaya. Namun demikian, sejumlah penelitan menunjukkan adanya perbedaan perlakuan medis terhadap pasien laki-laki dan perempuan, dan kecenderungan dokter untuk tidak mempercayai rasa sakit yang dialami pasien perempuan diduga sebagai salah satu alasannya. Dari perspektif komunikasi, kecenderungan untuk tidak mempercayai dan tidak menganggap serius tuturan perempuan terjadi akibat sistem bahasa yang didominasi oleh laki-laki. Perempuan menjadi terbungkam karena tidak mampu mengekspresikan diri secara bebas. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif terhadap enam artikel berita yang memuat pengalaman pasien perempuan untuk mengidentifikasi proses pembungkaman yang terjadi serta mendiskusikan implikasinya terhadap derajat kesehatan kaum perempuan. Hasil penelitian menunjukkan pembungkaman terjadi dalam bentuk trivialisasi, stigmatisasi, dan kendali atas tubuh pasien perempuan. Adanya praktik pembungkaman menunjukkan bahwa komunikasi dokter-pasien dapat menjadi sarana reproduksi ketidaksetaraan gender dalam dunia kesehatan. Dengan menerapkan teori kelompok terbungkam, peneliti menunjukkan bagaimana pasien perempuan menanggung beban ganda untuk dapat bersuara dan didengar: sebagai perempuan dalam sistem ekspresi yang didominasi laki-laki, dan sebagai pasien dalam sistem ekspresi yang mengedepankan otoritas medis.
Copyrights © 2023