Bell’s palsy (BP) adalah penyebab paling sering dari kelumpuhan wajah unilateral dan penyebab paling umum dari kelumpuhan wajah di seluruh dunia. Bell’s palsy adalah kelumpuhan nervus fasialis perifer, terjadi secara akut. Sir Charles Bell (1821) adalah orang yang pertama meneliti beberapa penderita dengan wajah asimetrik, sejak itu semua kelumpuhan nervus fasialis perifer yang tidak diketahui sebabnya disebut Bell's palsy. Prevalensi Bell’s Palsy di dunia cukup tinggi. Sementara di Indonesia, data prevalensi mengenai kasus Bell’s Palsy sulit untuk ditentukan. Hal ini dikarenakan jumlah penelitian mengenai prevalensi Bell’s Palsy yang masih sedikit dilakukan di Indonesia. Diagnosis Bell’s palsy dibuat dengan menyingkirkan penyebab lain dari kelumpuhan wajah unilateral, dan 30% sampai 60% kasus kelumpuhan wajah disebabkan oleh kelainan yang mendasari yang menyerupai Bell’s palsy, termasuk lesi sistem saraf pusat (misalnya, stroke, penyakit demielinasi), tumor kelenjar parotis, penyakit Lyme, sindrom Ramsay Hunt, penyakit granulomatosa, otitis media, kolesteatoma, diabetes, trauma, dan sindrom Guillain-Barré. Diagnosis Bell’s palsy dapat ditegakkan dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis. Faktor risiko bells palsy seperti preeklamsi, diabetes militus, suhu ataupun cuaca dan lain lain.
Copyrights © 2023