Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
Vol. 11, No. 01 (2023): Juni

POLEMIK AL-SAHABAH KULLUHUM ‘UDUL DALAM PERIWAYATAN HADIS

Darussamin, Zikri (Universitas Islam Negri Sulthan Syarif Kasim Riau)



Article Info

Publish Date
30 Jun 2023

Abstract

This article aims to investigate the rules of al-sahabah kulluhum 'udl. The rule of al-sahabah kulluhum 'udl is a concept that considers all of the Prophet's companions to be fair. According to Sunni scholars, a shahabah or companion is a "conveyor of shari'a". Doubting a companion's justice means doubting the "building" of shari'a. According to them, companionship justice is not built based on their daily activities but through self-affirmation. Companions are fair because they are Prophet’s companions and nothing can erase their status as his companions. On the other hand, some contemporary thinkers say the opposite and consider that not all his companions are fair. Being a friend and being fair are two separate concepts. Friends are said to be fair determined by their activities and not through self-affirmation. This research is library research with a theological-historical approach. The findings revealed that friends were involved in causing a schism in Islam, and some companions acted in ways that were inconsistent with the character of people with a just status. Apart from that, the descriptions in the Qur'an and Hadith about friends are different, there are so-called groups of believers, hypocrites, and wicked. Thus, generalizing all friends is wrong. Therefore, the doctrine of al-shahabah kulluhum 'udl needs to be reformulated to become al-sahabah kulluhum 'udl fi al-riwayah. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji kaidah al-sahabah kulluhum ‘udul. Kaidah al-sahabah kulluhum ‘udul adalah sebuah konsep yang memandang semua sahabat Nabi bersifat adil. Menurut ulama sunni, sahabat adalah "penyampai syari'at", meragukan keadilan sahabat berarti meragukan "bangunan" syari'at Islam” secara total. Menurut mereka, keadilan sahabat tidak dibangun atas dasar aktivitas mereka sehari-hari, namun melalui afirmasi diri. Sahabat itu adil karena memang mereka itu sahabat dan tidak ada perbuatan apapun yang dapat menghapus status mereka sebagai sahabat dan sekaligus adil. Di sisi lain, sebagian pemikir kontemporer mengatakan yang sebaliknya dan menganggap tidak semua sahabat adil. Menjadi sahabat dan menjadi adil adalah dua konsep yang terpisah. Sahabat dikatakan adil ditentukan oleh aktifitas mereka dan bukan melalui afirmasi diri.  Penelitian ini merupakan penelitian library research dengan pendekatan teologis-historis. Hasil penelitian menunjukkan adanya keterlibatan sahabat dalam memunculkan skisma dalam Islam serta terdapatnya sejumlah sahabat yang berprilaku tidak sesuai dengan karakter orang yang berstatus adil. Kecuali itu, gambaran al-Qur’an dan hadis tentang sahabat berbeda-beda, ada yang disebut kelompok orang mukmin, munafik dan fasik. Dengan demikian, menggeneralisir semua sahabat adil adalah keliru. Oleh karena itu, doktrin al-shahabah kulluhum ‘udul perlu direformulasi menjadi al-sahabah kulluhum ‘udul fi al-riwayah.

Copyrights © 2023






Journal Info

Abbrev

diya

Publisher

Subject

Languange, Linguistic, Communication & Media

Description

Diya al-Afkar adalah jurnal ilmiah yang memfokuskan studi al-Quran dan al-Hadis. Jurnal ini menyajikan karangan ilmiah berupa kajian ilmu-ilmu al-Quran dan al-Hadis, penafsiran/pemahaman al-Quran dan al-Hadis, hasil penelitian baik penelitian pustaka maupun penelitian lapangan yang terkait tentang ...