Indonesia memiliki wilayah dengan luas 1.910.931 km2 dan jumlah penduduk 255.182.144 jiwa pada tahun 2015. Hal ini menjadi penyebab Indonesia memiliki kebutuhan energi listrik yang tinggi, sehingga harus ada peningkatan kapasitas pembangkit listrik. Salah satu sumber energi potensial yang dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik di Indonesia adalah energi panas bumi dengan potensi daya sebesar 29.544 MW. Pemanfaatan energi panas bumi dapat diotimalkan salah satunya dengan metode siklus kalina, yaitu penggunaan campuran fluida campuran antara amonia dan air. Salah satu karakteristik dari siklus ini adalah temperatur didih yang tidak konstan pada fluida kerja, sehingga memberikan potensi peningkatan efisiensi. Pada penelitian ini, dilakukan optimasi dengan memanfaatkan brine yang memiliki temperatur 100–200°C. Hasil dari proses optimasi adalah daya neto per satuan laju massa brine yang digunakan pada temperatur 100–200°C pada masing-masing sistem siklus Kalina/ Kalina cycle system (KCS). Kedua sistem tersebut kemudian dibandingkan untuk menentukan sistem yang menghasilkan daya neto per satuan laju massa terbesar. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa KCS 34 adalah sistem yang paling optimum pada brine dengan temperatur 100–150°C, sedangkan KCS 11 optimum pada temperatur brine 155–200°C. Sistem siklus Kalina 34 yang digunakan pada temperatur brine 130–150°C menghasilkan kondisi uap kering pada larutan amonia air sebelum masuk alat pemisah. Hal ini menyebabkan pada sistem siklus Kalina 34 dengan temperatur brine 130–150°C dapat dihilangkan satu alat pemisah dan satu penukar panas, sehingga komponen yang digunakan menjadi lebih sedikit.
Copyrights © 2023