Larangan berkumpul menjadi inhibitor untuk dapat bebas berekspresi dan bersosial, sungguh melawan kodrat manusia untuk berbaur dan menjalin kedekatan dengan makhluk lainnya, sehingga tidak heran mendatangkan dampak krusial terhadap kesehatan mental dan jiwa manusia. Mahasiswa Institut Teknologi Bandung dengan beban akademis tinggi merasa semakin berat selama kegiatan kuliah dilangsungkan secara daring, dimana singkatnya pertemuan sinkron membuat dosen lebih gencar memberikan tugas, hingga mahasiswa kehilangan kesempatan bersenang-senang dan berdamai dengan dirinya sendiri. Penelitian ini bertujuan mengkaji seberapa besar dan tepat operasi layanan kesehatan kampus ITB untuk memenuhi hak-hak para mahasiswanya di bidang pelayanan kesehatan (mental/jiwa) serta pembenaran stigma kesehatan mental itu sendiri sebab tidak jarang mahasiswa memberi respon yang salah atas keluh yang dirasakannya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dan pengambilan data dengan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan program pelayanan kesehatan kampus ITB masih belum berjalan maksimal dan masih banyak mahasiswa menganut stigma dalam merespon gangguan/keluh kesehatan mental yang dirasakan.
Copyrights © 2021