Absorsi merupakan penyerapan air oleh campuran. Absorsi dalam campuran tidak boleh besar hal ini untuk meminimalkan potensi stripping atau pelemahan ikatan antar aspal dengan agregatnya. Oleh karena itu nilai absorsi dibatasi maksimal 3% untuk agregat yang akan digunakan untuk lapisan permukaan dengan bahan pengikat aspal. Agregat yang diuji pada penelitian ini berasal dari tiga quarry yaitu quarry Selayang, Sibiru-biru dan Namorambe (Armed) di mana menurut pengamatan staf dari PT Adhi Karya bahwa material dari ketiga quarry ini perlu diteliti karena mempunyai karakter material yang berbeda. Setelah diadakan pengamatan secara umum hasil penelitian ini menunjukkan bahwa agregat yang memiliki butiran yang lebih kasar mempunyai nilai absorbsi yang lebih tinggi di mana nilai absorbsi untuk quarry Selayang 1,416% , Sibiru-biru 2,037% dan Namorambe 3,072. Analisa Marshall menunjukkan bahwa rongga dalam mineral agregat (VMA) dan rongga dalam campuran (VIM) dalam Campuran Laston lapis aus (AC-WC) cenderung naik pada quarry Selayang yang menyebabkan rongga dalam agregat semakin kecil dan naik lagi pada quarry Sibiru-Biru dan Namorambe yang menyebabkan rongga dalam agregat semakin besar. Stabilitas cenderung naik pada quarry Selayang menurun pada quarry Sibiru-Biru dan menurun kembali pada quarry Namorambe. Hal ini diakibatkan pengaruh berbedaan absorbsi semakin meningkatkan VMA dan VIM serta menurunkan kepadatan. Flow cenderung meningkat pada quarry Selayang dan menurun pada quarry Sibiru-Biru dan quarry Namorabe mengakibatkan campuran semakin elastis. Marshall Quotient (MQ) cenderung meningkat pada quarry Selayang dan quarry Sibiru-Biru, mengakibatkan campuran semakin mendekati kekakuan. Stabilitas untuk quarry Selayang 1037 kg, Sibiru-Biru 988,64 dan Namorambe 848,64 kg.Kata-Kata Kunci : Marshall Test, Absorbsi, Agregat, Quarry
Copyrights © 2019