Dunia pertanian merupakan sektor ungulan dalam pembangunan jangka panjang pada masa pemerintahan Orde Baru. Sektor pertanian selalu menjadi basis prioritas dalam setiap tahapan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) RI. Namun, konsep dan teori modernisasi yang melandasi pembangunan dunia pertaniana itu tidak meletakkan petani sebagai subyek, melainkan dijadikan obyek, baik untuk kepentingan pencitraan politik pemerintah Orde Baru maupun untuk kepentingan komersil aparat terkait. Khusus di Kabupaten Karawang, kebijakan pembangunan pertanian masa Orde Baru yang bersifat top-down menyebabkan ketergantungan petani sekaligus melahirkan pembangkangan atau perlawanan tersembunyi. Riset ini menggunakan metodologi observasi-partisipatif dengan teknik pengumpulan data melalui pengamatan, wawancara, dan dialog intensif dengan para petani di Kabupaten Karawang. Analisis data kepustakaan menyangkut sejarah dan isu-isu strategis dunia petani dilakukan dengan landasan teori modernisasi, teori pembangunan, teori masyarakat, dan sosiologi politik. Setengah dekade awal pascareformasi menjadi momentum bagi petani Karawang untuk menata dan melembagakan â€perlawanan tersembunyi†mereka menjadi manifes sebagai organisasi petani yang independen dan partisipatif. Melalui organisasi itulah petani melakukan pemberdayaan politik untuk kepentingan kolektif, seperti cara berorganisasi, berdemokrasi, berdiplomasi, advokasi nonlitigasi, menggunakan media massa untuk opini, menata jaringan, dan menguatkan literasi berdasarkan pengalaman
Copyrights © 2020