Sektor industri ekonomi kreatif mengandalkan inovasi, keahlian, dan potensi individu untuk menciptakan lapangan kerja dan kemakmuran. Peran penting Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro (Disbudpar) dalam mengembangkan sektor ini bertujuan meningkatkan daya saing ekonomi daerah berdasarkan potensi lokal. Namun, Disbudpar menghadapi hambatan dalam menentukan wilayah potensial Ekraf yang perlu dikembangkan dan dibina, serta dalam menghasilkan sertifikasi untuk karya dan produk. Oleh karena itu, penelitian ini menerapkan metode Business Intelligence yang melibatkan pengintegrasian dan pengelolaan data terkait aktivitas industri ekonomi kreatif, untuk menyusun strategi pengembangan Ekraf. Metode Clustering digunakan dalam pemilihan dan penentuan wilayah pengembangan. Hasil dan pembahasan dari Clustering dengan metode K-Means menunjukkan adanya tiga klaster wilayah dengan karakteristik yang berbeda. Klaster wilayah potensial mencakup 14,29% dari total anggota klaster, klaster wilayah berkembang mencakup 32,14%, dan klaster wilayah rendah mencakup 53,57%. Selain itu, penggunaan Key Performance Indicators (KPI) digunakan untuk mengevaluasi kinerja pengembangan Ekraf. Hasil dari uji penerimaan pengguna menunjukkan tingkat penerimaan yang tinggi sebesar 100% terhadap dashboard yang telah dikembangkan. Dengan menerapkan Business Intelligence, informasi tentang jumlah pelaku ekonomi kreatif, pertumbuhan ekonomi kreatif, dan data penyerapan anggaran dapat diakses dan digunakan dalam mengukur strategi pengembangan di bidang ekonomi kreatif.
Copyrights © 2023