Abstrak - Cekungan Sumatera Selatan menempati peringkat kedua produksi hidrokarbon di Indonesia setelah Cekungan Kutai jika dihitung dari total produksinya. Cekungan Sumatera Selatan, terutama pada Formasi Talang Akar merupakan sumber hidrokarbon komersial yang dominan. Namun Cekungan Sumatera Selatan, yang sebagian besar merupakan ladang-ladang tua, memiliki tingkat produksi yang rendah karena faktor pemulihan yang rendah. Akumulasi produksi minyak yang terdapat pada Cekungan Sumatera Selatan sebesar 2,3 BBO (Billion Barrels of Oil) dari nilai cadangan awal sebesar 3,1 BBO. Optimalisasi produksi dapat dilakukan dengan berbagai cara untuk mendukung eksplorasi dan produksi cadangan hidrokarbon. Kajian analisis fasies dan pengendapan bawah permukaan dapat dijadikan acuan untuk menentukan reservoar mana yang berpotensi untuk melanjutkan pengembangannya. Metode yang digunakan dalam pemodelan fasies menggunakan kombinasi metode Truncated Gaussian Simulasi (TGS) dengan Trend and Sequential Indicator Simulasi (SIS), dan pemodelan dilakukan pada 3 zona reservoar. Analisis fasies dan lingkungan pengendapan pada daerah penelitian membentuk lingkungan pasang surut-muara dengan asosiasi fasies Tidal Sand Bar, Tidal Sand Flat, Sand-Sheet, Tidal Mixed Flat, dan Tidal Mud Flat. Hasil pemodelan menunjukkan sebaran reservoir relatif timur laut-barat daya dengan endapan yang berpotensi sebagai batuan reservoir dan diendapkan pada asosiasi fasies Tidal Sand Bar. Kata kunci: Formasi Talang Akar, Fasies model, Sand-sheet, Tidal Sand Bar, Tidal Sand Flat Abstract - The South Sumatra Basin is ranked second for hydrocarbon production in Indonesia after the Kutai Basin is calculated from its total production. In the South Sumatra Basin, the Talang Akar Formation is the dominant source of commercial hydrocarbons. Still, the South Sumatra Basin, with mostly old fields, has a low production rate from a low recovery factor. In the South Sumatra Basin, accumulated oil production is 2.3 BBO (Billion Barrels of Oil) from the initial reserve value of 3.1 BBO. Production optimization can be done in various ways to support the exploration and production of hydrocarbon reserves. Facies and subsurface deposition analysis studies can be used as a reference to determine which reservoirs have the potential to continue their development. The method used in facies modeling uses a combination method of Truncated Gaussian Simulation (TGS) with Trend and Sequential Indicator Simulation (SIS), and modeling is carried out in 3 reservoir zones. Facies analysis and depositional environment in the study area formed a tide dominate-estuary environment with facies associations Tidal Sand Bar, Tidal Sand Flat, Sand-Sheet, Tidal Mixed Flat, and Tidal Mud Flat. The modeling results show that the distribution of reservoirs is relatively northeast-southwest with deposits that have the potential as reservoir rocks and are deposited in the Tidal Sand Bar facies association. Keywords: Talang Akar Formation, Facies Modelling, Sand-sheet, Tidal Sand Bar, Tidal Sand Flat
Copyrights © 2023